BEHIND APPLECOAST

BEHIND APPLECOAST

Bisnis.com, JAKARTA --  Berkat keuletannya, Adidharma Sudrajat menjadi salah satu miliader muda yang juga terpilih menjadi juara I WMM Kelompok Mahasiswa bidang Industri Kreatif.

Bisnisnya bermula dari rasa sakit hati saat jalan-jalan ke salah satu mal di Bandung dan melihat ada jaket dan kaos yang harganya sekitar Rp1,5 juta.

“Saya pengen punya baju bagus itu tapi saya gak punya uang,” kata dia.

Adi saat itu baru saja pulang dari Turki, mengundurkan diri dari kampusnya karena bisnis orang tuanya di bidang konstruksi bangkrut.

Sisa uang yang ada di tabungan tinggal sedikit. Dia tak berani menggunakannya meski sangat naksir jaket keluaran merek ternama itu.

Demi bisa punya uang Adi pernah kerja sebagai tukang sablon dan jualan bolu di pinggir jalan sambil menyelesaikan kuliahnya di Universitas Terbuka.

Tapi kaos dan jaket itu rupanya membekas di hatinya dan dia terpikir untuk terjun ke industri clothing meski dia sama sekali tak punya pengalaman atau kenalan.

“Kalau mau bisnis jangan malu-malu nanya, main ke tempat shopping, di sana tanya gimana cara bisnisnya, sharing bahan apa yang bagus dan darimana dapatnya. Kompetitor itu dianggap sebagai teman,” dia membagi tips.

Tahun 2013, dengan modal tabungan Rp5 juta, Adi mulai usaha membuat kaos. Dia langsung menyisihkan Rp2 juta untuk membuat website dan Rp3 juta untuk produksi 4 lusin kaos yang langsung ludes terjual.

Produksi pertamanya tepat tanggal 20 April dan dia pun mengabadikan tanggal itu sebagai desain utama dari semua produknya yang bertahan hingga kini. Tanpa dia sengaja, desain tanggal itu yang membuat brand-nya langsung melejit lantaran lekat dengan hari ganja sedunia.

Awalnya dia mengerjakan semua sendirian mulai desain, produksi dan pemasarannya. Demi mempercepat penambahan modal, Adi menggarap pesanan brand tertentu dengan sistem komisi 25%. Ada berbagai tawaran yang masuk lewat websitenya, termasuk beberapa brand dari Amerika.

“Sekitar Mei atau Juni saya dapat untung bersih Rp23 juta, itu langsung saya gunakan untuk serius mengembangkan Apple Coast,” katanya.

Meski belum berumur dua tahun Adi bisa menembus Agenda Show, satu ajang untuk promosi urban-streetwear clothing yang digelar Januari 2015 lalu. Saingannya brand ternama seperti Billabong, Nike. Namun menurutnya dia bisa unggul karena konsisten dalam konsep yang original, dan tidak pernah mereproduksi desainnya.

“Kata pengundangnya kita satu-satunya brand se-Asia Tenggara yang diundang,” kata dia sambil tersenyum.

Dari acara yang berkonsep B to B itu dia berhasil menggaet 17 toko yang langsung meneken kontrak untuk menjual produknya dengan sistem beli putus.

Kini produksi dan omsetnya pun langsung melonjak membuatnya jadi miliader di usia masih 24 tahun. Omsetnya kini berkisar Rp2,4 miliar per tahun.

“Last sementer dari September-Februari itu itu Rp1,2 miliar,” ucap sosok yang gemar pakai topi itu.

Pria kelahiran 21 Februari 1991 itu berujar kini 70% dari produksinya yang berkisar 15.000-25.000 kaos per bulan diekspor ke Amerika. Dia punya agen distribusi sebanyak 17 titik di Amerika dan 8 titik di Indonesia seperti Bandung, Jakarta, Bali, Makassar, Banjarmasin dan Samarinda.

Dia mengaku sulit memasarkan produknya di Tanah Air. “Kendalanya penjualannya karena di Indonesia hampir semua toko masih sistem titip jual itu juga kadang-kadang bayarnya telat,” tuturnya.

Menurutnya brand di luar negeri bisa lebih cepat berkembang karena pakai sistem beli putus, sehingga produsen bisa memutar uangnya lebih cepat dan lancar.