Jalan Berliku di Balik Sukses Applecoast

Jalan Berliku di Balik Sukses Applecoast

Jalan Berliku di Balik Sukses Applecoast

Kesulitan telah menempa seorang Adidharma Sudradjat Kartanegara menjadi wirausaha muda bermotivasi kuat dan tahan banting. Kini, orang mengenalnya sebagai pemilik produk street wear dengan merek Applecoast. Pasarnya bukan hanya lokal (Bandung, Bekasi, Jakarta, Bali, Padang, Palembang, Banjarmasin dan Samarinda), melainkan sudah pula melanglang buana. Sekarang produknya dijual di 17 toko di Los Angeles dan tiga toko di New York. Tiap bulan dia bisa memproduksi 2-5 ribu item produk mulai dari topi, T-shirt, jaket, sweater, celana, kaus kaki hingga sepatu. Omsetnya pun tak kurang dari Rp 120-200 juta per bulan.

Adidharma Sudradjat Kartanegara

Bagaimana dia bisa melakukan itu? Semuanya bermula dari kepahitan hidup. Adidharma yang kelahiran 21 Februari 1991 harus rela pulang ke Tanah Air, meninggalkan kuliah S-1-nya di Dokuz Eylul University, Izmir, Turki, lantaran perusahaan orang tuanya terpuruk hingga berutang miliaranrupiahDunianya seketika terbalik: dari hidup nyaman, dia harus mencari mata pencarian untuk membantu keluarganya.

Dua bulan lamanya dia sempat berjualan kue bolu di pinggir jalan di Bandung. Sayang, hasilnyatak sesuai dengan harapan. Bisnis lain pun dimasuki: percetakan. Awalnya tampak lumayan. Dia sempat mendapat order membuat kemasan untuk produk camilan keripik pedas di Kota Kembang. Akan tetapi lagi-lagibisnis ini pun hanya berjalan beberapa bulan karena produk itu kemudianmengganti jenis kemasan.

Tak patah arang, dia lalu tertarik berbisnis apparel (clothing line). Ceritanya berawal saat jalan-jalan di sebuah mal di Bandung. Tiba-tiba matanya tertarik pada sebuah baju dengan merekternama. “Saat ingin membeli baju tersebutuang tabungan tinggal Rp 5 juta. Lalu saya pikir, kenapa saya tidak buat bisnis baju ini sendiri. Sejak itu saya bertekad bisnis clothing line dengan modal Rp 5 juta. Saya lalu memberanikan diri buka Applecoast ini,” Adidharma mengisahkan.

Untuk memberikan nama merek Applecoast, sebelumnya dia sudah menuliskan 50 nama merekalternatif. “Kemudian saya salat istikharah, dan dalam mimpi saya keluarlah nama Applecoast yang langsung saya pakai,” katanya.

Bermodal Rp 5 jutaApplecoast digulirkan. Untuk membuat website Rp 2 juta, sisanya untuk membuat 4 lusin clothing. “Saya mengurus sendiri hingga setahun, mulai cari bahan, desain baju belajar dari YouTube, jualan baju keliling ke teman-teman terdekat hingga cari toko yang mau dititipi barang,” lanjutnya. Salah satu kiatnya, selain jualan produk sendiri, di web-nya juga dijualmerek yang sudah dikenal.

Waktu pun berjalan. Siapa nyana, bisnisnya perlahan-lahan bergerak maju. Setelah 6 bulan berjalan dengan omset Rp 23 juta dan kontrak merek lain habis, Adidharma mulai memberanikan diri untuk hanya menjual produk sendiri.

Titik ungkit terjadi saat dia bertemu seorang bule asal London, Tavan Dutton, yang sedang sekolahdi Indonesia. Dengan gaya berpakaian anak skateboard, Adidharma mendekati sang bule di sebuah mal. Setelah berbincang-bincang akhirnya mereka pun saling tukar kontak dengan janjian ketemu lagi. Belakangan, Adidharma lalu menawarkan topi hingga baju gratis kepada Tavandengan syarat mau difoto dengan produk Applecoast. “Nah ternyata bule itu menyebarkan informasi melalui akun media sosialnya. Setelah itu, saya mulai kebanjiran order dari teman-teman Tavan yang berasal dari luar negeri,” cerita pemilik PT Dharma Adi Mandiri ini.

Perlahan tetapi pasti, Applecoast pun bukan hanya bermain di pasar lokal. Salah satunya,Adidharma melayani pesanan konsumen asal Kentucky yang order by e-mail.

Otomatis, lompatan kuantum seakan tinggal menunggu waktu. Benar saja, pada 5 Januari 2015, Applecoast diundang ke sebuah pameran besar street wear di Kalifornia, Amerika Serikat, namanya Agenda Show. Di hajatan itu, produk street wear Applecoast seperti topi, T-shirt, jaket,sweater, celana, kaus kaki dan sepatu bisa bersanding dengan merek terkenal dunia seperti Billabong, Nike, dan Quicksilver.

Saat akan berangkat pameran dia sempat bingung. “Tetapi saya putuskan untuk berangkat ke sana meski dengan harus menjual mobil dan cari beberapa sponsor untuk membiayai. Karena tidak paham di sana harus bagaimana, akhirnya saya hubungi konsumen yang di Kentucky itu. Hingga akhirnya konsumen itu menjadi mitra saya hingga saat ini, mereka mengurusi penjualan di sana,” papar Adidharma. Dari sinilah Applecoast menanjak di pasar luar negeri.

Kendati pasar mancanegara sudah dirambah, Adidharma terus aktif menggarap pasar lokal. Untuk pasar dalam negeri, saat ini Applecoast banyak mensponsori komunitas olahraga ekstrem yang populer seperti skateboardlongboarddan surfing – kebetulan Adidharma juga hobi olahraga ini.

Biasanya anggota komunitas dia kasih harga diskon spesial. Selain itu Adidharma juga ikut berbagai acara melalui media sosial dan mensponsori 14 atlet di bidang olahraga ektsrem.

Akbar Dipanegara (23 tahun) termasuk penggemar Applecoast. “Saya tahu dari media sosial Twitter dan Facebook. Saya tertarik karena desainnya mempunyai kekhasan. Bahannya juga nyaman dipakai. Saya biasanya beli topi, tas, kaus, dan tidak lebih dari Rp 150 ribu per item,” ungkap Akbar.

Desain. Begitu kaya, menurut Akbar. Faktanya, Applecoast yang menyasar usia 18-35 tahun, memang selalu memperbarui desainnya dan tiap bulan menyiapkan 40 desain baru. Adidharma sendiri yang sudah punya 9 karyawan, mengakui tantangannya cukup besar untuk masuk pasar dalam negeri, karena masyarakat kelas menengahnya cenderung lebih suka merek luar negeri dibanding produk lokal.

Namun, sekali lagi, dia tak pernah putus asa. Ke depan, dia malah sudah punya ambisi besar: ingin membuka jaringan toko sendiri dan memperbanyak ekspansi ke kota-kota lain yang saat ini belum dimasuki.